Sabtu, Februari 06, 2010

In Memoriam Dr. Wiyana Salman

Sudah lama saya tidak mengisi blog pribadi ini, namun lewat tengah malam tadi (6/2/2010) SMS berdering dengan berita dari Sr. Sumarni, Kepala IGD RS Pertamina Cilacap bahwa sejawat dan teman saya dr. Wiyana Salman telah meninggal dunia, berpulang menghadap HadiratNya. Ruang ICU RS DR. Sardjito Yogyakarta menjadi tempatnya meninggalkan kami semua untuk selamanya.

Siapakah dr. Wiyana Salman, sangat mungkin tak banyak yang mengenalnya kecuali para pasiennya di Kecamatan Kroya dan sekitarnya, atau keluarga Pertamina yang pernah berobat di RS Pertamina Cilacap. Sosok tubuhnya kecil dengan rambut yang sudah 2 warna dan pembawaannya yang pendiam, menyebabkan saya harus mengenangnya sebagai sosok yang "tidak neko-neko". Dalam perdebatan di Rapat Komite Medis, Seminar, apalagi Konggres besar, hampir dipastikan dr. Salman (panggilan akrabnya), tidak pernah bersuara. Suaranya tidak menggelegar, bahkan cenderung lembut sehingga kami sering terkecoh saat bertelepon sedang berbicara dengan beliau atau dengan perawat asistennya.

Pak Salman yang saya kenal hidup dalam perjuangan yang keras. Dia pengabdi pada profesinya, dan lebih dari itu beliau sangat mencintai keluarganya. Panggilan dinas sebagai dokter di luar Jawa diabaikannya, karena kecintaan beliau pada putranya. Dik Agung, putra keduanya menderita Autis dan pak Salman memastikan bahwa Agung akan mendapatkan pendidikan yang layak jika mereka sekeluarga tetap tinggal di Jawa. Pilihan itu memang tidak keliru, karena buah kegigihan perjuangan pak Salman dan istri maka Agung saat ini tak ubahnya seperti anak-anak yang lain. Inilah yang menyebabkan saat ingin mengetahui tentang Autis dan Autisme maka saya seperti menemukan textbook terbaru dan terlengkap dalam diri dr. Wiyana Salman.

Banyak cerita dan kenangan yang saya dapatkan dari sejawat saya ini. Biarlah tulisan ini akan menjadi salah satu cara saya menghormati dan mengaguminya. Foto yang ada dalam halaman ini adalah wajah dr. Wiyana Salman saat melepas kami sekeluarga meninggalkan Cilacap di awal tahun 2009.

Selamat jalan, temanku..... Kami tahu bahwa engkau telah siap untuk menjalani takdir ini. Seorang sahabatmu merekam kata-kata terakhirmu di saat bersama melaksanakan Visite Besar pasien hari Rabu pagi, 3 Februari 2010, "Jika saya harus pergi diatas meja operasi.... saya siap..". Inikah kata pamitanmu pada kami?

Salam dan hormat kami

Senin, Desember 07, 2009

PERTAMINA Peduli Diabetes Mellitus

Penyakit Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronis dan sistemis. Kronis, menunjukkan perkembangannya yang lama, makin memberat dan cenderung berkomplikasi, serta sistemis karena luasnya penyebaran penyakit itu yang mampu menyerang hampir semua organ tubuh manusia. Dampak penyakit ini terbukti sangat memengaruhi status kesehatan dan produktifitas kerja seseorang juga berdampak ekonomis karena tingginya biaya perobatan.

Di Negara Indonesia, penyakit DM ini sudah menjadi persoalan yang besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia (2003), diperkirakan penduduk Indonesia yang berusia diatas 20 tahun itu adalah sebesar 133 juta jiwa sedangkan angka penelitian kejadian (prevalensi) DM di daerah urban 14,7% dan daerah rural sebesar 7,2%. Pada tahun 2003 tersebut di Indonesia dinyatakan terdapat sejumlah 13,7 juta penyandang Penyakit DM. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memprediksi bahwa di Indonesia angka tersebut akan terus meningkat, dan pada tahun 2030 diperkirakan penderita penyakit DM tersebut akan mencapai angka 21,3 juta jiwa – suatu jumlah yang luar biasa dan berpotensi kerugian yang sangat besar juga. Suatu fakta yang lebih mengejutkan menyatakan bahwa di dunia ini setiap 10 detik akan meninggal seorang penderita DM dengan komplikasinya, dan pada saat bersamaan ditemukan 2 orang penderita yang baru[1]. Angka tersebut ternyata cenderung meningkat terus seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, yang diikuti dengan perubahan perilaku hidup yang kurang sehat. Tingginya angka kesakitan dan kematian ini jauh melebihi angka pada penyakit HIV/AIDS, bahkan juga kematian akibat Virus H5N1 maupun H1N1 yang menghebohkan itu. Dalam laporan selanjutnya terungkap suatu fakta yang sangat dramatis yaitu bahwa sekitar 50% penyandang DM ternyata belum terdiagnosis. Hal ini berarti di lingkungan masyarakat umum, termasuk masyarakat Pertamina, masih banyak yang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya adalah penyandang penyakit DM tersebut[2].

SEJARAH
George Ebers, seorang ilmuwan, di kota Thebes (Mesir) menemukan tulisan dari sekitar tahun 1550 SM di atas kertas papyrus kuno, yang kemudian dikenal sebagai Papyrus Ebers tentang suatu penyakit dengan gambaran, “Penyakit dengan gejala kencing yang berulang dan banyak, dapat bersifat ganas dan kematian dalam waktu singkat”. Gambaran ini memberikan kesan bahwa penyakit tersebut adalah DM. Kitab pengobatan Aryuveda dari India (600 SM) juga menceriterakan upaya penyembuhan dari penyakit dengan gejala banyak kencing seperti itu. Aretaeus dari Cappadocia (81–138 M) dengan jelas memberi gambaran tentang penyakit ini, “Penyakit penuh rahasia yang ganas, sehingga tubuh penderita dihancurkan dan dibuang melalui air kemih”. Aretaeus memberi nama Diabetes pada penyakit ini, ia mendeskripsikan penderita penyakit ini dengan gambaran tubuh yang kurus, minum banyak, dan kencing banyak, tubuhnya terdapat borok luka yang menganga dan sakit-sakitan – biasanya meninggal pada usia muda. Dalam sejarah kedokteran, Aretaeus kemudian dinyatakan sebagai Bapak Diabetes.

Daelius Aurelianus (sekitar 500–600 M) juga menceriterakan gambaran penyakit yang dinyatakan sebagai, “Penyakit dengan gejala kencing banyak, air yang masuk langsung keluar lagi ibarat mengalir melalui pipa, tanpa hambatan”. Baru pada sekitar abad ke 17, Rollo dan Frank menyebut kembali penyakit itu dengan gambaran, “Penyakit kencing banyak dan rasanya manis – Diabetes Mellitus”.

DIABETES MELLITUS – GAMBARAN UMUM & KOMPLIKASI
Seperti gambaran dalam sejarah perkembangan dan penemuan penyakit DM, maka buang air kecil merupakan gejala yang mudah terlihat dan dirasakan mengganggu aktifitas seseorang. Secara umum gejala klasik penyakit DM ditandai dengan Trias P (3P) yaitu (1) Poliuria (banyak kencing), (2) Polidipsia (banyak minum), (3) Polipagia (banyak makan). Selain itu keluhan penderita DM sering bermula dari gejala lain seperti berat badan yang menurun drastis, rasa lemas atau kelelahan yang berkepanjangan, gatal pada sekitar lipat paha, kesemutan, infeksi yang sering kambuh, dan penglihatan yang kabur.

Pada penderita DM, kadar gula darah pada malam hari yang meninggi menimbulkan rasa haus dan keinginan kencing semakin menjadi-jadi; penderita akan hilir mudik minum dan ke kamar mandi. Makin dalam rasa kantuk, semakin menyiksa kedaan ini, sehingga penderita sering melupakan keharusan menyiram kloset atau lantai kamar mandi. Kondisi ini menyebabkan semut datang untuk bersarang, maka adanya semut di Kamar Mandi/ Closet – dapat dipakai sebagai tanda awal kecurigaan penyakit DM.

Seperti diketahui, masalah utama penderita penyakit DM ada pada tingginya kadar gula darah, maka pada dasarnya semua sel dan organ tubuh dapat terkena penyakit ini. Apabila darah sebagai sumber kehidupan menjadi “tidak ideal”, maka dapat dimengerti apabila pada sel dan organ menjadi rusak karena terganggunya (1) kemampuan menjaga kehidupannya, dan (2) kemampuannya melawan penyakit (infeksi) yang menyerangnya. Area organ tubuh adalah meliputi seluruh bagian tubuh yang dialiri darah. Hal ini yang menyebabkan DM menimbulkan gambaran klinis yang beragam pada penderita satu dengan lainnya. Setelah berlangsung lama dan memberat, gejala dan keluhan itu dilukiskan oleh Krall, LP (1982) sebagai penyakit yang:

The most frightening : retinopathy -> kebutaan
The most deadly : cardiovascular disorder -> serangan jantung
The most expensive : kidney disease -> gagal ginjal
The most frustating : neuropathy -> gangguan syaraf
The most obvious : skin lessions -> borok di kulit
The most prolonged : food lessions -> kaki membusuk
The most secretive : impotence -> impotensi

PERTAMINA PEDULI DM
Lalu apa kait mengaitnya penyakit kronis ini dengan PT PERTAMINA (PERSERO)?
Pertama, adalah karena visi perusahaan ini yang ingin menjadi perusahaan migas terkemuka di dunia. Tapi mungkinkah harapan itu dapat terwujud tanpa pekerja yang sehat dan produktif? Apabila masyarakat Pertamina dikelompokkan sebagai masyarakat rural dan mengacu pada angka statistik diatas, maka 7,2% populasinya patut diduga adalah penderita DM. Faktanya, data Medical Check-up (MCU) pekerja menunjukkan bahwa 10-15% mereka yang rajin MCU telah mulai memiliki kadar gula darah diatas normal[3]. Kedua, Pertamina sebagai perusahaan yang concern pada efisiensi biaya, selayaknya memberikan perhatian pada penyakit berbiaya besar seperti DM ini. Penyakit ini timbul akibat pola perilaku yang tidak sehat (lifestyle disease) dan mengharuskan pengobatan seumur hidup (longlife disease). Penyakit yang sesungguhnya relatif dapat dicegah ini justru berpotensi timbul karena perusahaan memberikan kesejahteraan yang memadai bagi pekerjanya – dan akhirnya, perusahaan juga harus mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi karena “kenikmatan” hidup pekerjanya. Suatu ironi siklus lingkaran setan yang pasti tidak diharapkan. Inilah mata rantai yang ingin diputuskan oleh Fungsi Medical Pertamina dengan menata ulang visinya untuk ber-Paradigma Sehat mengutamakan pencegahan timbulnya sakit dan kecacatan, lebih dari sekedar menjadi juru pengobat.

Ketiga, karena memang pemerintah (Depkes RI) sangat memerlukan partisipasi masyarakat maupun perusahaan untuk mempercepat penanganan masalah kesehatan. Kurang terdengar gaung angka komplikasi dan kematian Penyakit DM bukan karena tidak pentingnya penyakit ini, namun karena keterbatasan sumber daya dan aspek politis lain yang menyebabkan prioritas Depkes RI adalah masalah penyakit masyarakat, infeksi akut dan wabah. Kepedulian perusahaan sekelas Pertamina terhadap masalah Penyakit DM akan merupakan solusi berdaya ungkit besar bagi percepatan pembangunan kesehatan di Indonesia. Apabila pada HUT Ke-52 PT PERTAMINA (PERSERO) tahun 2009 perusahaan memberikan perhatiannya pada Penyakit DM, maka sesungguhnya kegiatan itu adalah merupakan pernyataan bahwa kini Pertamina ber-Paradigma Sehat, sungguh-sungguh berorientasi pada biaya dan produktifitas kerja, serta menunjukkan bahwa Pertamina mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan kesehatan. Di media televisi ada sebuah tayangan iklan layanan masyarakat yang disponsori oleh suatu perusahaan rokok dengan mengambil tema “Bangkit dan Bersatulah Pemuda Indonesia”. Apabila iklan tersebut dianggap mampu mengangkat citra perusahaan rokok tersebut, maka betapa tidak semakin dikenalnya perusahaan migas kita ini apabila tampil juga tayangan serupa yang menyatakan bahwa untuk kesehatan dan produktivitas maka “Pertamina Peduli Diabetes Mellitus (DM)”

-------------------------------------------------------------------
[1] Sumber: Okezone, 25/07/2007 pkl 09:48 Wib, lihat juga http://rumahdiabetes.com
[2] Angka dan keterangan mengenai prevalensi DM dapat dilihat pada referensi Buku Konsensus Pengelolaan DM (2006)
[3] Atas pertimbangan medis, angka insidensi dan prevalensi penderita DM tidak dipublikasikan dan apabila diperlukan dapat dilihat di Fungsi Medical HR Operation

Sabtu, Oktober 03, 2009

Integritas Seorang Sipir Penjara

Kemarin saya berjumpa dengan saudara ipar saya seorang sipir penjara besar dan ternama di negeri ini. Perawakannya tidak tinggi hanya sekitar 155 cm dan badannya kurus, sangat berlawanan dengan bayangan seorang penjaga penjara tempat berkumpulnya para napi kelas kakap yang badannya berotot dan bertato. Umurnya 44 tahun dan sesuai latar belakang pendidikan, pangkat jabatannya sudah “mentok” tidak mungkin naik lagi sampai ia pensiun kelak. Sungguh, ia bukan orang yang berpunya bahkan 2 tiket Bis Sinar Jaya non-AC untuknya bersama anaknya kembali pulang, adalah uang terakhir di sakunya. Namun demikian, ada sorot mata tajam dan senyum yang selalu menghias bibirnya.

“Dik, sebenarnya sebagai sipir penjara narkoba, ada nggak sih temanmu yang juga hidup sepertimu? Bukankah penjara tempatmu bekerja adalah sarangnya penjahat narkoba”, saya bertanya. Agak sukar untuk membayangkan PNS yang bekerja di kota besar lebih dari 25 tahun seperti dirinya, saat ini masih hidup berkekurangan. Sipir lain yang jauh di bawahnya justru sudah hidup mapan dengan memiliki rumah dan kendaraan. Ia hanya menjawab singkat dan datar, “Ada juga sih, satu atau dua orang”. Nah.... lalu bagaimana teman sejawatnya yang selebihnya selain 1 atau 2 orang itu?

Mulailah ia bercerita tentang kondisi kehidupan komunitas di balik nama besar Penjara Narkoba itu. Memang benar cerita investigasi di televisi tentang kebobrokan dan kondisi dunia penjara. Mafianisme, suap menyuap, adalah kondisi yang sampai saat ini masih ada di balik tembok tebal itu. Narkoba masih beredar di depan mata – dan uang beredar dengan omzet seperti pusat perbelanjaan. Kalau saja ia mau ikut arus kehidupan di tempatnya bekerja, maka ia pasti sudah kaya harta dunia. Bayangkan saja, untuk menghantar paket kecil narkoba itu tarifnya Rp. 1 juta,- Paket ini harap diantar 3x seminggu, dan untuk paket yang lebih besar tarifnyapun lebih menggiurkan. Belum lagi “salam tempel” para pengunjung napi yang rata-rata adalah para orang berada.

Banyak sipir yang mengikatkan diri pada “kontrak” itu dan tersusun terstruktur sampai di tingkat atas. Jangan terlalu heran jika tiba-tiba terjadi kerusuhan napi yang ternyata adalah “sandiwara” yang ujungnya adalah dikenakannya sanksi dan mutasi bagi Kepala Lapas – justru karena KaLapas itu orang yang disiplin dan ingin menegakkan hukum. Para napi dan bawahannya tampaknya kompak, untuk menikmati sorga dunia bahkan dengan menyingkirkan atasannya yang ingin berdisiplin.

“Disana banyak para sipir yang menjadi bintang sinetron” demikian tambahnya. Ternyata yang dimaksud adalah para sipir yang perawakannya besar dan sangar. Di saat suasana penjara tenang, mereka beraksi berteriak-teriak, membentak-bentak seolah mempunyai kuasa dan wibawa. Tetapi jika terjadi kerusuhan antar napi, mereka adalah orang pertama yang lari minta perlindungan. “Bagaimana mungkin mereka punya nyali melawan para napi yang selama ini menghidupi mereka”, demikian tambahnya. “Kami inilah yang maju menghadapi mereka, dan mereka segan kepada kami karena mereka tidak dapat membeli kami”.

Dalam perbincangan itu pada akhirnya saya lebih banyak terdiam dan merasa mendapat nasehat oleh dia yang umurnya lebih muda, namun integritasnya sangat membanggakan. Apakah saya juga mempunyai kecintaan terhadap nilai integritas senilai dirinya? Alasan sipir penjara itu untuk tetap bersikap seperti itu ternyata adalah rasa takut. Takut untuk mencelakakan dirinya dan keluarganya sendiri – takut kepada Dia yang Tak Tampak namun selalu Melihat.

Masih banyak lagi perbincangan kami, sampai tidak terasa hari sudah sore dan Bis Sinar Jaya sudah parkir di Terminal Cilacap. Selamat jalan, dik – semoga nasi bungkus yang tadi dibawakan dapat menjadi bekalmu berbuka dan sahur di atas bis nanti.

Cilacap, 14 September 2007

Sumber gambar: http://gokilstory.blogspot.com/

Logika Batu ataukah Logika Air



Berikut ini adalah suatu makna keindahan dan perenungan yang pernah diungkapkan dalam tulisan Gde Prama, dan saya tuliskan kembali tentang perilaku kita mengabdi logika.

Tanpa disadari di dalam kehidupan ini kita banyak menjumpai orang berperilaku keras bagaikan batu, dan bukan mustahil orang itu adalah kita sendiri. Alih-alih bersikap tegas, kita justru menjadi keras dan siap berbenturan dengan “batu” lain di keseharian. Semisal pemerintah berbentur keras dengan pihak legislatif, para pengusaha beradu keras pendapat dengan pekerjanya, tokoh masyarakat dan artis dengan media massa, bahkan kitapun membenturkan diri dengan teman sekerja, atasan, bawahan, juga keluarga sendiri. Segala yang tidak sejalan dengan pendapat kita haruslah dilawan dengan berjuang keras, karena hal itu seolah menjadi ancaman keberadaan kita. Di dalam kekerasan nalar maka antar kita dan antar mereka – senantiasa berbentur-benturan seperti bertemunya batu dengan batu yang sering menimbulkan suara keras dan lompatan bunga-bunga api.

Nah..... inilah Logika Batu yang tanpa disadari sering menjadi “Kekayaan Batin” yang seolah terkondisikan sebagai harus dipertahankan, jangan sampai kalah, jangan sampai hilang. Pengertian mendasar dari Logika Batu adalah bahwa kebenaran yang diyakini akan ditemukan dengan jalan melawan. Padahal kekalahan terhadap “batu” lain yang kita bentur sendiri, sering menjadikan hilangnya eksistensi diri, rasa kecewa bahkan frustasi. Lebih jauh lagi rasa ini ternyata justru akan membentuk hati yang lebih keras lagi, dan akan diperlukan lebih banyak lagi energi harus dipersiapkan untuk kembali membenturkan logika batu kita.

Ada logika lain yang layak untuk dicermati, yaitu Logika Air. Ibarat air yang mengalir di sungai ia selalu akan dapat melewati setiap penghalangnya karena kelenturannya. Ia seolah hidup dan menari-nari mengatasi setiap penghalang jalannya. Tubuh manusia yang hidup juga lebih lentur daripada jasadnya ketika mati. Batang pohon yang masih hidup juga lebih indah dan lentur, dibanding batang yang mati. Batang tanaman Bunga Adenium bahkan sedemikian lenturnya, sehingga di tangan yang ahli ia dapat dibentuk dengan indah bahkan kemudian ia dicari untuk dicintai.

Pengertian ini ingin menyatakan, yang masih hidup lebih lentur dari yang sudah mati. Kelenturan lebih dekat dengan kehidupan, bahkan lebih daripada itu – ia lebih mudah membahagiakan. Sebaliknya, kekerasan dan kekakuan justru lebih tepat melambangkan kematiannya.

Haruskah kita membanggakan Logika Batu kita untuk menjalani kehidupan ini? Mengapa tidak ingin belajar memiliki Logika Air yang justru menandakan kita masih hidup? Dengan berlogika batu kita berjuang untuk bertahan dan melawan, sedangkan dengan logika air kita hanya perlu menyesuaikan, sambil terus berjalan maju.

Tapi..... apakah Logika Air itu tidak berarti seseorang yang berjiwa lembek dan lambang ketidakberdayaan?

Seperti halnya batu yang mempunyai kekuatan untuk membentur, maka airpun mempunyai kekuatan yang sama. Dalam keseharian kekuatan itu memang tidak tampak, namun perjalanan hidup membuktikan bahwa kekuatan air itu pula yang mampu membentuk batu atau bahkan mampu menghancurkannya.

Jika dari dua sisi ekstrim sikap hidup manusia ada sikap agresif dan sikap yang pasif, maka letak logika air ternyata adalah pada sikap yang asertif. Jadi..... mengapa harus berlelah membentur-benturkan diri dan menjadi bangga justru dengan berdarah-darah?

Jumat, September 11, 2009

Keindahan dan Bahagianya Tidur

Pada tanggal 6 Agustus 1997 terjadi kecelakaan udara Pesawat Korean Air Flight N0. 801 saat melakukan pendaratan di Antonio B. Won Pat International Airport, Guam. Suara rekaman kokpit yang terdengar sebelum terjadinya kecelakaan adalah kata-kata pilot, “...benar-benar...mengantuk”. Kelelahan pilot tersebut akhirnya diputuskan sebagai penyebab utama tragedi tersebut, yang dibayar dengan 228 orang menjadi korbannya dan hanya 26 orang yang selamat. Di sisi lain, suatu data pada tahun 2006 menunjukkan bahwa orang-orang di Amerika banyak mengonsumsi obat untuk membantu tidurnya. Setidaknya dalam setahun diperkirakan ada 42.000.000 resep obat tidur untuk orang dewasa dan anak-anak. Lebih setengah dari seluruh orang dewasa di Amerika menderita insomnia beberapa kali dalam seminggu.

Cerita dan fakta diatas menunjukkan bahwa aktifitas tidur ternyata sangat memengaruhi kehidupan manusia. Ada sekelompok orang yang sangat ingin tidur, tapi tak punya waktu untuk itu. Ada juga yang memiliki banyak waktu untuk tidur, namun mereka gagal melakukannya. Satu hal yang pasti adalah bahwa setiap individu manusia memerlukan waktu untuk beristirahat setelah melakukan akktifitas. Bayangkanlah suatu sistem mesin baik di mobil ataupun mesin, yang padanya tidak pernah diberikan kesempatan untuk beristirahat. Istilah fatique menggambarkan kelelahan dari organ mesin yang tidak pernah berhenti bekerja. Bayangkan pula suatu taman hiburan yang banyak dikunjungi orang dan buka 24 jam setiap harinya, 7 hari dalam seminggu. Jika tidak pernah ada kesempatan untuk membersihkan area permainan dan restoran, maka dapat dipastikan sampah akan menumpuk, kotor dan tidak sehat. Demikian pulalah yang dialami oleh tubuh yang tidak beristirahat, ia akan letih, kotor dan tidak sehat.

Namun rupanya untuk dapat menikmati tidur yang lelap dan sehat, ternyata diperlukan suatu rangkaian kondisi dan situasi tertentu. Hal ini memang tidak selalu disadari oleh tiap orang, khususnya bagi mereka yang tidak pernah mengalami gangguan tidur karena bagi mereka tidur adalah aktifiitas yang tidak perlu didiskusikan. Tidur memang memiliki beberapa prasyarat seperti keletihan tubuh setelah bekerja, tempat yang nyaman, dan hati yang damai. Manakah dari 3 variabel itu yang paling dominan?

Sekelompok orang yang memiliki kesempatan untuk tidur, namun tidak dapat melakukan dan menikmatinya, masuk dalam kelompok insomnia. Mereka sudah lelah bekerja, mereka memiliki uang untuk membeli resep untuk mendapatkan tidur yang nyenyak. Pada kelompok inilah data kondisi di Amerika tentang pemakaian obat tidur dapat dicermati, meskipun untuk masalah data seperti itu negara kita tergolong dalam negara miskin (data). Jadi, jika demikian halnya maka bukankah hati yang tenang dan damai merupakan faktor dominan untuk mengantar seseorang memperoleh kenikmatan tidur yang membahagiakannya.

Masalahnya kemudian adalah menemukan jawaban atas pertanyaan bagaimana dan dimanakah dapat ditemukan hati yang damai dan bahagia itu?

Banyak orang yang meyakini bahwa kehidupan itu keras dan kejam. Segala daya upaya dan kekuatannya dikerahkan untuk menaklukkan dan menguasai kehidupan. Tetapi siapakah manusia itu? Benarkah ia yang terbatas memunyai kekuatan untuk menaklukkan yang tak terbatas itu? Ketika ia merasa telah melampaui puncak gunung yang satu, ternyata itu adalah suatu dasar lembah bagi gunung permasalahan berikutnya.

Ingin tidur dengan nyenyak?
Pandang dan teladanilah gambar foto diatas. Tubuh renta dan lelah Sang Pengelana jalanan tersebut dapat membawanya menemukan keindahan tidur, bahkan ketika matahari telah meninggi dan keributan lalu lalang orang terdengar disekitarnya. Apakah karena ia tidur di depan pintu kuil dan ia merasakan bahwa Sang Dewi telah menjaganya?

Bukankah tidur yang indah didapatkan justru ketika kita bersedia menaklukkan diri di KakiNya?

Jumat, September 04, 2009

Bang Djalal dan Pengemis Tua

Pagi itu ada suatu hal yang istimewa. Bang Djalal senior saya di tempat kerja meneteskan air mata. Ia menuturkan kisah perjumpaannya dengan seorang pengemis perempuan tua yang mampu membuatnya layak berurai air mata. Keistimewaannya justru datang dari pribadi Bang Djalal sendiri dan sikapnya yang tidak seperti biasanya. Bagi yang cukup dalam mengenalnya, dia adalah pribadi yang kokoh, pantang baginya minta belas kasihan apalagi berurai air mata karena perjalanan hidupnya menjadi dia yang saat ini adalah jalan hidup yang keras dan tajam. Kehidupan sebagai penyemir sepatu, kernet dan sopir angkot, sampai berdagang, pernah dilakoninya, diusia remajanya. Ketika saat ini telah hidup bahagia dan mapan dangan 3 orang anak yang berbakti, dia masih dapat mengingat semua masa lalunya. Ia menghormati setiap orang yang mau bekerja keras, namun sangat tidak senang pada orang malas dan hanya meminta belas kasihan orang lain. Nah….. baginya pengemis adalah lambang kemalasan itu. Tak terbilang kali ia bersitegang untuk tidak tiap waktu memberi pada peminta-minta, ketika anak-anaknya bersiap membuka kaca mobil mengulurkan uang sedekah.

“Pagi itu seperti biasa saya berangkat kerja lewat Jatiwaringin menuju arah Cawang”, demikian Bang Djalal mulai menuturkan ceritanya. Sudah beberapa waktu ini ada seorang ibu tua yang selalu duduk di perempatan lampu merah, walau hari masih sangat pagi. Ada rasa kasihan tersirat dalam hati, dan saya sudah memberikan uang recehan kepadanya dalam beberapa pagi ini, meskipun saya sebenarnya tidak begitu suka. Tapi pagi ini suasana hati saya agak lain….. Kebetulan saya berangkat agak kepagian, sehingga rasanya masih ada waktu untuk berhenti sejenak. Saya memarkir mobil, dengan penuh rasa penasaran saya datang menghampiri perempuan tua, Pengemis itu. Dari dekat tampak tubuhnya yang renta dibalut baju yang seadanya. “Nek..nenek…! Nenek rumahnya dimana..?” saya bertanya memulai percakapan. Nenek tua itu memandang saya, seakan tidak percaya bahwa ada orang yang mengajaknya berbicara di remang pagi itu. Kepalanya kemudian dimiringkan ke sisi kanan, mencoba mendekatkan telinganya kepada saya dan tahulah saya bahwa kemampuan mendengarnya sudah berkurang.

Sejenak kemudian tahulah saya bahwa nenek itu hidup sebatang kara di kota besar ini. Anaknya 5 orang namun entah kemana mereka semua, tak ada kabar beritanya. Nenek itu tinggal dengan cara mengontrak kamar kecil. “Untuk orang lain sewanya 200 ribu, tapi oleh yang punya nenek dapat potongan jadi cuma 150 ribu rupiah sebulan…..”, kata pengemis itu. Setelah berbicara beberapa saat rasa hati saya semakin tidak karuan dan saya sudah tidak tahan lagi. Sebelum pecah bendungan air mata, saya merogoh saku dan mengambil sebagian besar uang yang ada disaku entah berapa tak sempat saya hitung lagi berapa jumlahnya dan menggenggamkannya ditangan yang berkeriput itu. Nenek tua itu terkejut, matanya membeliak tak percaya, tangan saya direngkuhnya dan digoncang-goncangkan sambil berkata, “Terima kasih…terima kasih…,nak”. Saya segera berpamitan sambil menahan haru dan bendungan air mata jebol saat saya berada dalam mobil, bahkan sepanjang perjalanan ke kantor bulu kuduk ini masih meremang dan saputangan telah kuyup dibasahi air mata yang tak henti berurai.

Satu wajah yang segera tampak di pikiran ini adalah wajah ibu yang sangat saya cintai yang berada jauh di Kuala Simpang. Nenek itu mungkin seusia beliau, jadi saya membayangkan kalau beliau menjadi renta dan papa karena kami anak-anaknya tidak memerhatikan, seperti anak-anak nenek tua pengemis itu. Bukankah nenek tua itu memiliki anak? Bagaimana mungkin mereka semua melupakan ibu yang melahirkan mereka di dunia ini dengan bertaruh nyawa? Adalah kebetulan jika hari ini adalah tanggal 13 Ramadhan 1430 H, artinya bagaimana mungkin mereka menjalani puasanya tanpa membersihkan diri dan mohon pengampunan dari orang yang paling layak dihormati itu…?

Selanjutnya….. apakah masih ada produser reality show di televisi yang akan mampir di perempatan itu untuk memberikan uang kaget atau membedah rumah nenek tua yang sebatang kara itu? Ah…. Itu mungkin harapan muluk Pungguk Merindukan Bulan, namun satu hal yang saya dapatkan pagi ini adalah kaca mobil saya seolah ada yang mengetuk agar saya menoleh dan berhenti untuk memberikan perhatian kepada seorang ibu tua papa yang dalam kesendiriannya.
Sampai disini cerita dari Bang Djalal itu berakhir.

Dia, nenek tua pengemis itu mungkin selama ini tidak berarti bagi kita semua, namun DIA Sang Pemilik Kehidupan ingin menyatakan bahwa di HadiratNya semua insan CiptaanNya itu sangat berharga.

Catatan kecil:
Saat ini Pemerintah Daerah kota ini sedang gencar melaksanakan Perda No. 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, termasuk menertibkan gelandangan dan pengemis. Mengemis adalah aktifitas yang dilarang, dan memberikan sedekah bagi mereka juga dapat dipidanakan. Semoga ada jalan yang berakhir indah bagi nenek pengemis tua itu.

Sumber gambar: http://soulmate-jie.blog.friendster.com/ dan http://kekecr7.blogspot.com/